Through You,
I can do anything,
I can do all things,
For it’s You who give me strength,
Nothing is impossible
Through You,
Blind eyes are opened,
Strongholds are broken,
I am living by faith,
Nothing is impossible!
Ah. This feeling.
Perasaan sama seperti Maret 2009 lalu, dimana rasanya lari semakin kencang, dan sahabat di sisi kiri dan kanan juga mempercepat akselerasinya. Rasanya sama seperti dulu saat saya bertukar lolipop dan cita-cita dengan sahabat saya itu, atau saat kami berempat mengubur rahasia dan tawa kami di pandora box, atau malam-malam dimana doa semakin kencang, pelukan semakin hangat, dan tangis haru berlinangan.
Belum, memang belum sampai garis finish, tapi lagi-lagi perasaan yang campur aduk ini datang lagi. Perasaan sama, namun berbeda.
Bulan Maret ini diawali dengan rasa panik, atas salah satu tahap penting agar cita-cita saya di bulan Juli dapat tercapai. Menanti bersama, berlatih bersama, menyemangati bersama, membangunkan satu sama lain, menangis bersama, dan akhirnya tertawa bersama.
Sekarang, setelah tahap itu terlewati, memang masih ada tahap lain yang pasti jauh lebih berat. Yaitu sebuah karya sebagai representatif bahwa saya berhak mendapatkan cita-cita saya itu di bulan Juli.
Namun, pagi tadi saya paham, rupanya tahap yang lebih berat dari itu juga telah tiba. Okay, randomly I cried, padahal mimpi tadi pagi indah sekali.
Tahap persimpangan jalan.
Maret, yang berarti satu bulan lagi, temanku si buncit, maniak game online, dan super indie, akan lulus, di wisuda, dan segera bekerja di Jakarta, mungkin juga ke ujung Indonesia sana.
Maret, yang berarti dua atau tiga bulan lagi, enam teman-temanku, bahkan mungkin lebih akan berpencar ke berbagai kota untuk memulai kehidupan sebagai orang dewasa yang mandiri, bukan cuma main pingpong atau truf di himpunan lagi. Si teman (ex) maniak korea yang gak nyantai tapi ngangenin, si bijak dan super ganteng tapi sayangnya mesum, si senator yang makin buncit yang hobinya pacaran sama simulator, si cina yang bakal selalu bikin saya teringat atas ceritanya saat makrab angkatan, si bollywood lover yang selalu berdebat dengan saya sampai buat saya menangis but somehow sebenarnya dia sangat baik dan perhatian, si partner kompre dan partner bimbingan yang pacarnya super unyu, si anak baik, rajin, dan super rapi yang hobinya fotografi dan kuliner dan akhirnya sudah bisa menyelip di jalan dengan motornya, si tertindas angkatan yang super sabar dan jago memanfaatkan beasiswa PPA dengan baik, dan teman-teman saya lainnya yang pastinya akan saya rindukan.
Maret, yang berarti empat bulan lagi, hari-hari persimpangan jalan akan menampakkan dirinya, namun tentunya senyum dan peluk hangat akan mengantar itu semua.
Maret, yang berarti empat atau lima bulan lagi, persimpangan jalan (amin) dengan dua orang sahabat yang sangat sangat saya sayangi di Petrofamily. Si anak perfect, segala bisa, tempat curhat yang super jujur, tega, dan komennya jahat, tapi mungkin setiap halaman cerita saya udah pernah dia telan karena saya selalu cerita sama dia. Si bocah internasional, teman belajar, teman gosip, teman cerita, teman hangout, si pecinta nutella yang belum bisa saya insepsi dengan K-Wave.
Maret, yang berarti lima bulan lagi, perpisahan dengan seorang partner yang suka gak jaga omongan dan kadang sungguh keterlaluan luar biasa, tapi akan selalu membuat saya senang dan rindu akan cerita-cerita akan jalan dan badai emas yang dia peroleh untuk bisa bersekolah di negeri paman sam sana.
Dan tidak lupa, Maret, yang berarti sudah lima bulan lamanya persimpangan jalan dengan si kepala besar.
Masih banyak yang harus digapai, masih banyak malam-malam untuk menyelesaikan tugas kuliah dan tugas akhir. Tapi di luar itu semua saya sadar, malam-malam sebelum persimpangan-persimpangan jalan itu semakin dekat. Bersyukur dan manfaatkan dengan baik, Yes. :)